Perspektif · AI Ethics

Perlombaan AGI vs. AQI: Mengapa “Semakin Besar” Bukan Lagi Jawaban untuk Masa Depan AI

Adaptive Qona’ah Intelligence (AQI) — paradigma AI yang bijak sumber daya, digagas oleh dr. Yanuar Iman Santosa, MedInovaTech.

Juni 2026 · dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. A.I.(K), M.Si.Med

Versi Bahasa Inggris

Versi Bahasa Indonesia

Pendahuluan: Jebakan “Semakin Besar Semakin Baik” dalam Dunia AI

Setiap kali model kecerdasan buatan (AI) baru diluncurkan, rekor baru selalu diumumkan: triliunan parameter, puluhan ribu GPU, dan pusat data raksasa seluas kompleks olahraga. Namun, pernahkah kita bertanya di balik gemerlap pencapaian tersebut: berapa galon air bersih dan berapa ribu megawatt listrik yang harus dihabiskan hanya demi menaikkan skor uji coba (benchmark) sebesar satu atau dua persen?

Saat ini, arah perkembangan AI terobsesi pada satu cita-cita besar: mengejar Artificial General Intelligence (AGI). Terdapat asumsi implisit bahwa semakin raksasa ukuran model dan semakin melimpah infrastruktur yang menopangnya, maka AI secara otomatis akan menjadi semakin berguna bagi manusia. Sayangnya, perlombaan ini mulai menjebak kita dalam kondisi over-computation—sebuah pemborosan komputasi ekstrem yang mengorbankan sumber daya dasar kehidupan demi ambisi kecerdasan tanpa batas.

Melihat krisis yang mengintai di balik ekspansi komputasi ini, dr. Yanuar Iman Santosa dari MedInovaTech menggagas sebuah paradigma alternatif yang segar, rasional, dan bertanggung jawab: Adaptive Qona’ah Intelligence (AQI). Paradigma ini mengalihkan fokus dari pertanyaan haus daya, “Seberapa besar AI bisa kita bangun?”, menjadi pertanyaan yang jauh lebih empati dan realistis: “Seberapa cukup kecerdasan yang sebenarnya dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah manusia?”

Bukan “Seberapa Besar”, tapi “Seberapa Cukup” (Resource Sufficiency)

Di dalam lanskap teknologi modern, penerapan prinsip Qona’ah sama sekali bukan bentuk sikap anti-kemajuan, pasrah pada ketertinggalan, atau kompromi terhadap teknologi berkualitas rendah. Sebaliknya, Qona’ah adalah bentuk kearifan teknologis untuk mampu membedakan secara tegas antara kebutuhan nyata (necessity) dan kerakusan komputasi (appetite).

Kerakusan dalam rekayasa AI saat ini terwujud dalam bentuk perlombaan parameter, pemborosan daya GPU, pembangunan pusat data raksasa, hingga pemakaian energi listrik dan air bersih secara tak terkendali untuk sistem pendingin (cooling system). Padahal, listrik dan air bersih adalah sumber daya vital yang diperebutkan oleh masyarakat, rumah sakit, sektor pertanian, dan industri dasar demi kelangsungan hidup sehari-hari. Setiap megawatt listrik dan liter air yang terbuang demi marjin kecil angka benchmark adalah sumber daya yang dicabut dari kebutuhan riil masyarakat.

Prinsip ini menjadi semakin berdasar ketika diterapkan pada ranah praktis. Jika sebuah tugas klinis dapat dilakukan dengan baik oleh model kecil yang berjalan pada satu workstation lokal, maka menggunakan sistem komputasi raksasa di cloud bukan selalu sebuah kemajuan. Kadang-kadang itu hanya bentuk over-computation yang tak perlu.

Oleh karena itu, AQI menegaskan filosofi utamanya:

“Intelligence should scale with necessity, not appetite.”

Prinsip resource sufficiency (kecukupan sumber daya) menuntut para pengembang untuk menggunakan komputasi, energi, konektivitas, dan ukuran model sebesar yang diperlukan saja. Tidak kurang sehingga menurunkan kualitas pelayanan, tetapi juga tidak berlebihan hanya demi mengejar estetika skor benchmark. Inilah fondasi sejati bagi keberlanjutan (sustainability) teknologi di masa depan.

Lokalisasi Komputasi Bukan Kemunduran, Tapi Kedewasaan Teknologi

Implementasi praktis dari prinsip kecukupan sumber daya ini mengarahkan arsitektur AI secara alami dari ketergantungan pada pusat data terpusat (hyperscale data centers) menuju komputasi lokal dan edge (Local AI dan Edge AI Computing). AQI menolak gagasan bahwa setiap permintaan inferensi sederhana harus melakukan perjalanan jauh melintasi benua menuju pusat data raksasa.

Dengan menggeser proses komputasi ke workstation dokter, klinik, atau perangkat edge di fasilitas layanan kesehatan lokal, kita memperoleh sejumlah manfaat strategis yang sangat nyata:

Pergeseran ini membuktikan bahwa lokalisasi komputasi bukanlah sebuah kemunduran teknologi, melainkan sebuah bentuk kedewasaan dalam berteknologi. Kita memanfaatkan cloud dan model raksasa hanya saat masalah yang dihadapi benar-benar kompleks dan membutuhkannya. Sebaliknya, kita mengandalkan edge dan model kecil ketika sistem tersebut sudah terbukti mampu menyelesaikan tugasnya secara aman dan memadai.

AQI Adalah “Right-Sized AI”, Bukan Sekadar “Small AI”

Terdapat anggapan keliru bahwa paradigma alternatif seperti AQI sekadar mengampanyekan “AI berukuran kecil” (small AI). Pemahaman ini menyederhanakan masalah. AQI sejatinya adalah right-sized AI—sebuah pendekatan rekayasa yang memadankan ukuran dan kapasitas kecerdasan AI secara presisi dengan beban kerja spesifik yang harus diselesaikan.

AQI berfokus menciptakan sistem kecerdasan yang memahami batas kompetensinya, menghormati daya dukung lingkungan, serta tidak memperlakukan pasokan listrik dan air bersih seolah-olah sumber daya tanpa batas. Pendekatan right-sized AI ini menjamin bahwa efisiensi tidak mengorbankan akurasi, melainkan menyesuaikan arsitektur sistem agar tepat guna.

Dalam realitas pelayanan kesehatan, filosofi right-sized AI membawa dampak emansipatif yang luar biasa:

Pilar Etika FAST + Qona’ah dalam Pengembangan AI

Agar pengembangan kecerdasan buatan tetap berjalan di atas rel yang aman, proporsional, dan bertanggung jawab, AQI merumuskan kerangka kerja etika FAST + Qona’ah. Kerangka kerja ini mengintegrasikan nilai-nilai kepemimpinan moral ke dalam arsitektur rekayasa perangkat lunak:

Kesimpulan & Reorientasi Masa Depan AI

Perlombaan AI hari ini membawa peradaban kita pada persimpangan jalan yang krusial. Kita dihadapkan pada dua pilihan paradigma: melanjutkan ambisi mengejar kecerdasan maksimal tanpa peduli biayanya (maximum intelligence at any cost) atau beralih membangun kecerdasan yang cukup dengan biaya dan dampak yang bertanggung jawab (sufficient intelligence with responsible cost).

AQI tidak bermaksud menawarkan satu mesin monolith raksasa yang mencoba menyelesaikan seluruh permasalahan dunia sekaligus. Sebaliknya, AQI menawarkan arah masa depan berupa ekosistem kecerdasan yang modular, lokal, adaptif, hemat energi, hemat air, dan terukur sesuai kebutuhan nyata.

Filosofi inti dari paradigma ini terangkum secara tajam:

“Kecerdasan yang baik bukan hanya tahu bagaimana menggunakan sumber daya. Kecerdasan yang baik juga tahu kapan harus berhenti menggunakannya.”

Not unlimited intelligence. Responsible intelligence within limits.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi yang sedang kita ukir hari ini menuntut sebuah pertanyaan reflektif bagi kita semua: apakah kita akan terus terjebak dalam arus perlombaan komputasi tanpa batas yang menguras sumber daya bumi, ataukah kita berani melangkah menuju era kecerdasan yang bijaksana, bertanggung jawab, dan hidup harmonis dalam batas-batas yang rasional?

Sumber & Atribusi: Adaptive Qona’ah Intelligence (AQI) v1.0 — dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. A.I.(K), M.Si.Med — MedInovaTech | Juni 2026 | medinovatech.com

Punya pertanyaan atau ingin berdiskusi soal AQI untuk institusi Anda?

Diskusi via WhatsApp